Aku bicara dengan kalbuku
Mencoba mencari titik terang
Atas keresahan hati
Yang semakin menggempakan
Imajinasi di kepala
Membuat hidup tak lagi
Berwarna
Seperti kala puluhan purnama lalu
Aku dengan kegelisahanku
Menggugat kalbuku
Menggugat semua titik keringat
Dan air mata
Yang jatuh ke wajah bumi
Namun selalu sia-sia
Aku dengan ketakutanku
Menggugat kalbuku
Menggugat perihal letupan
Amarah yang jauhkan aku
Dari hidup impian senjaku
Rindu rasanya
Aku berada di bawah purnama
Tatkala aku bisa memeluk
Separuh nyawaku
Menemaninya terlelap
Memimpikan kelak dia
Mengindahkan dunia
Rindu rasanya
Menuangkan segelas
Kasih sayang
Dalam laku hari-hariku
Mengelus kepala
Dan menggenggam
Tangan mungilnya
Setiap hari
Kala ini
Aku harus menerima
Nasibku
Tak dapat
Bersua raga
Di tiap pergantian
Hari
Dengan Langitku
Aku rindu masa itu