Aku tak bersua sapa
Dengan rembulan
Sebab kini
Malam selalu lepas
Karena mimpi
Hadir lebih cepat
Masih teringat
Tatkala rembulan
Menemani di tengah
Perang dalam benakku
Menjadi saksi
Atas kerisauan
Di kamarku sendiri
Kini, aku selalu disapa
Semburat senyum mentari
Saat aku menyeduh
Kopi hitam pahit
Sembari menghisap
Sebatang-dua batang
Rokok murahku
Ah, rasa-rasanya
Ingin sekali aku
Bercengkrama lagi
Bersenda gurau lagi
Dan menuangkan kisahku
Pada rembulan
Sebab rembulan
Tak pernah meniadakan aku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar